Imam Syafi’i

Diposting pada

ShahihImam Syafi’i merupakan salah satu imam madzhab yang sangat terkenal di antero dunia. Memang, sebagaimana kita tahu bahwa sebenarnya banyak sekali madzhab fiqih lainnya di dunia yang tersebar di beragam wilayah berbeda. Namun, secara jamak, ada empat imam madzhab yang diterima luas di dunia Islam hingga saat ini yang salah satunya adalah Al-Imam Syafi’i.

Menarik sepertinya untuk menyimak biografi imam syafi’i karena madzhab inilah yang sangat terkenal dan sering dijadikan rujukan hukum fiqih di antero nusantara. Memang, sebagian besar umat Islam di Indonesia mengacu pada Al-Imam Syafi’i untuk urusan rujukan hukum fiqih dibandingkan dengan Imam lainnya.

Tentu, dengan memahami secuil tentang biografi beliau, maka kita dapat belajar lebih mengenai tokoh Islam yang masyhur ini. Selain itu, kita juga bisa membuat perbandingan dengan Imam yang lain guna mendapatkan hukum fiqih yang paling tepat untuk memecahkan suatu persoalan yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Biografi Imam Syafi’i

Imam Syafi'i

Untuk mengetahui kisah hidup dari Al-Imam Syafi’i, maka tentu saja kita harus mencoba mencari tahu asal usul beliau. Perlu diketahui, nama asli imam syafi’i adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris. Beliau memiliki hubungan darah dengan Rasulullah Muhammad SAW dari Abdul Manaf, yang merupakan kakek buyut dari Nabi SAW.

Ada hal yang unik mengenai kisah imam syafi’i ini. Meskipun nenek moyang beliau merupakan suku Quraish yang berdiam di Mekah, namun beliau dilahirkan tidak di kota suci umat Islam tersebut. Beliau dilahirkan di Ghazza, Palestina, karena ayah beliau yang bernama Idris, merantau di Palestina. Ia lahir pada tahun 150 H, yang merupakan tahun wafatnya Al-Imam Abu Hanifah.

Dalam kisah sejarah imam syafi’i diceritakan bahwa ayah beliau meninggal dalam usia muda sehingga Al-Imam Syafi’i diasuh oleh ibunya yang kemudian di pindahkan ke Mekah. Beliau hidup di Mekah dalam keadaan yatim. Al-Imam Asy-Syafi’i kecil sudah menunjukkan kecerdasaannya. Beliau hafal Al Qur’an dalam usia 7 tahun dan menghafal kitab Al Muwattho karya Imam Malik saat berusia 10 tahun.

Al-Imam Syafi’i belajar dari ulama Mekah dan ia mendapatkan ijazah untuk berfatwa dari Muslim bin Kholid Az-Zanji Al Makky pada umurnya yang ke 15 tahun. Setelah itu, beliau safar dan berguru pada Imam Malik selama bertahun-tahun. Dengan izin untuk berfatwa, banyak dijumpai nasehat imam syafi’i mengenai masalah masyarakat yang terjadi di sekitarnya.

Pada tahun 195 H, Imam Syafi’i pergi ke Baghdad dan mengajar di sana sehingga banyak bermunculan ulama besar daripadanya. Ulama-ulama inilah yang kemudian menjadi sejarah awal munculnya mazhab syafi’i di dunia. Di Baghdad, beliau banyak menulis buku yang kemudian dikenal dengan kitab imam syafi’i. Salah satu karya imam syafi’i yang terbesar adalah Al-Risala.

Pada tahun 198 H, beliau kembali ke Baghdad setelah pulang dari Mekah. Beliau menetap sebulan lalu menuju ke Mesir untuk meneruskan dakwah hingga akhirnya beliau sakit bawasir dan meninggal pada tahun 204 H.

Syair Sebagai Keistimewaan Imam Syafi’i

Tidak dipungkiri bahwa Al-Imam Asy-Syafi’i merupakan salah satu tokoh Islam terbesar yang tetap tersimpan namanya hingga saat ini. Beliau memiliki banyak sekali keistimewaan yang tentu saja bisa membuat umat Islam belajar dari apa yang ia lakukan sepanjang hidupnya.

Perlu diketahui bahwa Al-Imam Asy-Syafi’i merupakan imam dalam bahasa atau lughah. Beliau banyak menghafalkan syair yang mempengaruhi kekuatan bahasa Arab beliau. Dalam hal ini, Ibnu Hisyaam (penulis sirah Nabi) mengatakan, “Asy-Syafi’i hujjah dalam bahasa Arab” (Al-Waafi bil Wafaayaat 19/143)” karena hampir tidak ditemukan kesalahan dalam berbahasa.

Selain itu, keistimewaan lain dari Al-ImamAsy-Syafi’i adalah beliau banyak membuat syair. Ya, ada banyak sekali syair imam syafi’i yang dapat kita temui. Meskipun syair yang dituliskan oleh beliau termasuk syair yang sederhana, namun memiliki makna yang begitu mendalam.

Syair yang dibuat mencakup beberapa tema bahasan. Ada syair imam syafi’i tentang cinta, ada pula syair tentang kehidupan bermasyarakat dan tentang bagaimana hidup yang semestinya. Beberapa syair beliau yang terkenal adalah:

أمَتُّ مَطَامِعي فأرحْتُ نَفْسي ** فإنَّ النَّفسَ ما طَمعَتْ تهونُ

Aku bunuh sifat tamak yang ada pada diriku, maka akupun menenangkan diriku

Karena jiwa kapan ia tamak maka rendahlah jiwa tersebut

وَأَحْيَيْتُ القُنُوع وَكَانَ مَيْتاً ** ففي إحيائهِ عرضٌ مصونُ

Dan aku hidupkan sifat qona’ah pada diriku yang tadinya telah mati

Maka dengan mengidupkannya harga dirikupun terjaga

إذا طمعٌ يحلُ بقلبِ عبدٍ ** عَلَتْهُ مَهَانَةٌ وَعَلاَهُ هُونُ

Jika sifat tamak telah menetap di hati seorang hamba

Maka ia akan didominasi oleh kehinaan dan dikuasai kerendahan

Beliau berkata :

نَعِيبُ زمانَنا والعيبُ فِيْنا *** وَما لِزَمانِنا عَيْبٌ سِوانا

“Kita mencela zaman kita, padahal celaan itu ada pada diri kita sendiri, dan zaman kita tidaklah memiliki aib/celaan kecuali kita sendiri”

Beliau berkata :

لَمَّا عَفَوْتُ وَلَمْ أحْقِدْ عَلَى أحَدٍ ** أَرَحْتُ نَفْسِي مِنْ هَمَّ الْعَدَاوَاتِ

“Tatkala aku memaafkan maka akupun tidak membenci seorangpun, Akupun merilekskan diriku dari kesedihan dan kegelisahan (yang timbul akibat) permusuhan”

إنِّي أُحَيِّي عَدُوِّي عنْدَ رُؤْيَتِهِ ** لِأَدْفَعَ الشَّرَّ عَنِّي بِالتَّحِيَّاتِ

“Aku memberi salam kepada musuhku tatkala bertemu dengannya, Untuk menolak keburukan dariku dengan memberi salam”

وأُظْهِرُ الْبِشْرَ لِلإِنْسَانِ أُبْغِضهُ ** كَمَا إنْ قدْ حَشَى قَلْبي مَحَبَّاتِ

“Aku menampakkan senyum kepada orang yang aku benci, Sebagaimana jika hatiku telah dipenuhi dengan kecintaan”

النَّاسُ داءٌ وَدَاءُ النَّاسِ قُرْبُهُمُ ** وَفِي اعْتِزَالِهِمُ قَطْعُ الْمَوَدَّاتِ

“Orang-orang adalah penyakit, dan obat mereka adalah dengan mendekati mereka, Dan sikap menjauhi mereka adalah memutuskan tali cinta kasih”

Beliau berkata :

بقَدْرِ الكدِّ تُكتَسَبُ المَعَــالي ….ومَنْ طَلبَ العُلا سَهِـرَ اللّيالي

Ketinggian diraih berdasarkan ukuran kerja keras

Barang siapa yang ingin meraih puncak maka dia akan begadang

ومَنْ رامَ العُلى مِن ْغَيرِ كَـدٍّ …..أضَاعَ العُمرَ في طَـلَبِ المُحَالِ

Barang siapa yang mengharapkan ketinggian/kemuliaan tanpa rasa letih

Maka sesungguhnya ia hanya menghabiskan usianya untuk meraih sesuatu yang mustahil

تَرُومُ العِزَّ ثم تَنامُ لَيـلاً …..يَغُوصُ البَحْرَ مَن طَلَبَ اللآلي

Engkau mengharapkan kejayaan lantas di malam hari hanya tidur aja?

Orang yang yang mencari mutiara harus menyelam di lautan

Keistimewaan lain dari beliau adalah beliau termasuk ulama yang tegar di atas sunnah dan bersemangat untuk memerangi bid’ah. Al-Imam Asy-Syafi’i mendapatkan gelar yang berarti ia merupakan penolong dari hadist Nabi Muhammad SAW. Karena semangatnya, beliau seringkali berdebat dengan ahli bid’ah yang menolak untuk menerima sunnah yang disampaikan oleh beliau.

Hal lain yang perlu diketahui tentang Al-ImamAsy-Syafi’i adalah charisma beliau. Al-ImamAsy-Syafi’i memiliki kharismatik yang luar biasa hingga ulama besar yang ada di Baghdad tertarik untuk belajar kepada beliau.

Keistimewaan lain dari Al-Imam Asy-Syafi’i adalah beliau merupakan seorang innovator. Dalam perjalanan karirnya, beliau melakukan sebuah perubahan yang cukup besar dalam ilmu fiqih. Kitab beliau, AR-Risalah merupakan kitab tentang kaidah ushul fiqih pertama yang kemudian menjadi rujukan dari ulama dan umat islam untuk mempelajari hukum-hukum Islam dengan lebih mendalam.

Madzab Imam Syafi’i di Indonesia

Sebagaimana sudah disinggung sebelumnya bahwa fiqih imam syafi’i merupakan fiqih yang menjadi rujukan atas persoalan tentang umat Islam di Indonesia. Madzhab ini digunakan hampir seluruh ormas Islam terbesar di Indonesia.

Namun, tentu saja, dalam pengambilan hukum fiqih, membandingkan beberapa madzhab yang ada demi dalil yang terkuat adalah hal utama yang bisa dilakukan. Demikian pula sikap dalam pengambilan hukum fiqih melalui madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i.

Al Imam Asy-Syafi’i memberikan banyak sekali pesan untuk umat Islam di seluruh dunia. Salah satu pesan imam syafi’i yang sangat terkenal dan berasal dari syair yang beliau buat adalah,

وَلاَ هُتَخْطُرْ مُوْمُ غَدٍ بِبَالِي … فَإِنَّ غَدًا لَهُ رِزْقٌ جَدِيْدُ

“Dan tidaklah keresahan esok hari terbetik di benakku, Karena sesungguhnya esok hari ada rizki baru yang lain”.

Pesan tersebut dapat dijelaskan jika hari esok merupakan misteri yang mengandung rizki yang lain. Tidak ada alasan untuk terus berkeluh kesah dan kehilangan semangat untuk menyongsong hari yang baru.

Di akhir hayatnya, beliau di makamkan di Kairo, Mesir. Kini, makam imam syafi’i terawat dengan baik dan beberapa berkunjung untuk berziarah. Namun, tentu saja, anda sebaiknya tidak mencari foto imam syafi’i demi kemaslahatan.

Itulah ulasan kami mengenai biografi imam syafi’i beserta dengan kisah dan sejarahnya. Kini karya-karya nya berupa kitab maupun syair beliau patut kita pelajari untuk memperdalam ilmu tentang keislaman.

Loading...