Macam – Macam Bacaan Doa Iftitah yang Benar Sesuai Sunnah Nabi SAW

Diposting pada

Shahih – Memahami detail terkait doa iftitah tentu saja merupakan hal yang sangat penting. Perlu dipahami bahwa doa ini merupakan salah satu doa yang diamalkan ketika melaksanakan ibadah sholat. Bisa dipahami bahwa membaca doa iftitah atau istiftah disunnahkan oleh Rasulullah dengan beberapa macam doa yang beliau ajarkan.

Selain itu, perlu dipahami pula bahwa ada beberapa jenis bacaan iftitah yang bisa diamalkan. Perbedaan ini bukan mengartikan mana yang benar dan mana yang salah, melainkan beberapa pilihan doa iftitah sesuai sunnah tersebut kesemuanya diamalkan oleh Nabi Muhammad SAW dan bisa diplih.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami beberapa hal terkait doa iftitah dan artinya. Dengan mengetahui beberapa jenis bacaan tersebut beserta terjemahannya, kita juga bisa belajar mengenai arti dan keutamaan dari bacaan doa tersebut. Simak beberapa penjelasan mengenai macam macam doa iftitah di bawah ini. Semoga membantu.

Hukum Membaca Doa Iftitah

Macam - Macam Bacaan Doa Iftitah yang Benar Sesuai Sunnah Nabi SAW

Sebelum membahas perihal doa iftitah yang benar, ada baiknya kita mengetahui hukum membaca doa iftitah terlebih dahulu. Dalam hal ini, terdapat dalil mengenai hukum membaca ifititah dari hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yakni:

كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا كبَّر في الصلاة؛ سكتَ هُنَيَّة قبل أن يقرأ. فقلت: يا رسول الله! بأبي أنت وأمي؛ أرأيت سكوتك بين التكبير والقراءة؛ ما تقول؟ قال: ” أقول: … ” فذكره

Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam setelah bertakbir ketika shalat, ia diam sejenak sebelum membaca ayat. Maka aku pun bertanya kepada beliau, wahai Rasulullah, kutebus engkau dengan ayah dan ibuku, aku melihatmu berdiam antara takbir dan bacaan ayat. Apa yang engkau baca ketika itu adalah:… (beliau menyebutkan doa istiftah)” (Muttafaqun ‘alaih)

Tentu saja, sebagaimana yang sudah dibahas di awal, pembacaan iftitah ini letaknya pada setiap ibadah sholat, baik sholat wajib maupun sholat sunnah. Selain itu, bacaan ini dibaca setelah melakukan takbiratul ihram dan sebelum membaca bacaan Al Fatihah, hanya pada rakaat pertama saja.

Doa iftitah mempunyai 12 macam seperti yang diajarkan oleh Rasulullah. Para ulama’ membaginya kedalam 2 jenis, yaitu doa istiftah yang memiliki ciri bacaan panjang dan doa iftitah yang karakteristik bacaannya pendek-pendek. Ini disesuaikan dengan kondisi saat kita melaksanakan sholat.

Macam Macam Doa Iftitah

Sebagaimana sudah disinggung sebelumnya bahwa ada beberapa macam doa iftitah yang bisa diamalkan ketika sholat. Berikut ada beberapa macam-macam doa iftitah yang dikumpulkan berdasarkan penelitian dari Muhammad Nashiruddin Al Albani.

Doa pertama yang sering dibaca oleh Rasulullah ialah,

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ

Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin” (HR.Bukhari 2/182, Muslim 2/98)

Doa ini biasanya dibaca oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau melakukan sholat wajib dan doa ini merupakan yang paling shahih diantara doa lainnya. Perlu diketahui, doa iftitah muhammadiyah yang diajarkan pun juga seperti ini. Seringkali, doa ini juga disebut dengan doa iftitah allahumma baid baini.

Doa lain yang juga sering dibaca oleh Nabi Muhammad SAW adalah,

اللَّهِ أَكْبَرُ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ

Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji”. (HR. An Nasa-i, 1/143. Di shahihkan Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/251)

Ini merupakan salah satu doa iftitah pendek yang diamalkan dalam menjalankan ibadah sholat wajib dan sunnah. Doa ini tentu juga bisa menjadi salah satu pilihan yang dipilih untuk diamalkan.

Doa ketiga yang bisa dibaca adalah,

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَقِنِي سَيِّئَ الْأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الْأَخْلَاقِ لَا يَقِي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, tunjukilah aku amal dan akhlak yang terbaik. Tidak ada yang dapat menujukkanku kepadanya kecuali Engkau. Jauhkanlah aku dari amal dan akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkanku darinya kecuali Engkau”. (HR. An Nasa-i 1/141, Ad Daruquthni 112)

Doa ini juga merupakan variasi dari iftitah yang dibaca Nabi Muhammad SAW. Sebenarnya, masih banyak bacaan iftitah yang ada namun setidaknya kita mengamalkan beberapa saja dari keseluruhan tersebut. Perlu diketahui bahwa membaca salah satu doa tersebut setiap sholat memang diperbolehkan. Namun, untuk mengikuti sunnah Nabi, perlu kiranya kita mengganti doa tersebut dengan beberapa jenis doa lain sewaktu-waktu.

Dari ketiga contoh bacaan iftitah tersebut, kita juga bisa melihat bahwa salah satu doa iftitah yang paling shahih adalah doa yang pertama. Selain itu, doa lain yang ada merupakan doa iftitah rasulullah yang boleh diamalkan dalam ibadah sholat, baik wajib maupun sunnah.

Doa Iftitah Saat Sholat Tahajjud

Lalu, bagaimana dengan iftitah pada waktu melaksanakan sholat tahajud? Adakah perbedaan dengan bacaan yang sudah disebutkan di awal tadi? Tahajud memang merupakan sholat sunnah khusus yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi Muhammad SAW selama hidupnya.

Terkait pembahasan mengenai shalat iftitah sebelum tahajud, ada pembahasan yang menarik. Anda boleh menggunakan bacaan iftitah yang anda baca setiap hari atau menggunakan bacaan khusus untuk tahajud. Dalam hal ini, Rasulullah SAW mengajarkan untuk membaca bacaan iftitah khusus tahajud, seperti berikut ini:

Dari Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf, beliau bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Apa doa yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengawali shalat malam beliau?”

Aisyah menjawab: “Beliau memulai shalat malam beliau dengan membaca doa:

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ أَنْتَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Ya Allah, Tuhannya Jibril, mikail, dan israfil. Pencipta langit dan bumi. Yang mengetahui yang gaib dan yang nampak. Engkau yang memutuskan diantara hamba-Mu terhadap apa yang mereka perselisihkan. Berilah petunjuk kepadaku untuk menggapai kebenaran yang diperselisihan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus.” (HR. Muslim 770, Abu daud 767, Turmudzi 3420 dan yang lainnya)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila melakukan shalat di tengah malam, beliau membaca doa iftitah:

اَللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ،

اَللّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ. فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، أَنْتَ إِلٰهِيْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, hanya milik-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta siapa saja yang ada di sana. Hanya milikMu segala puji, Engkau yang mengatur langit dan bumi serta siapa saja yang ada di sana. Hanya milikMu segala puji, Engkau pencipta langit dan bumi serta siapa saja yang ada di sana. Engkau Maha benar, janji-Mu benar, firman-Mu benar, pertemuan dengan-Mu benar. Surga itu benar, neraka itu benar, dan kiamat itu benar.

Ya Allah, hanya kepada-Mu aku pasrah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakkal, hanya kepada-Mu aku bertaubat, hanya dengan petunjuk-Mu aku berdebat, hanya kepada-Mu aku memohon keputusan, karena itu, ampunilah aku atas dosaku yang telah lewat dan yang akan datang, yang kulakukan sembunyi-sembunyi maupun yang kulakukan terang-terangan. Engkau yang paling awal dan yang paling akhir. Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.” (HR. Ahmad 2710, Muslim 769, Ibn Majah 1355).

Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bangun malam, beliau bertakbir, kemudian membaca:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ

Maha Suci Engkau Ya Allah, aku memuji-Mu, Maha Mulia nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu, tiada tuhan yang berhak disembah selain Engkau.

Lalu membaca:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah” (3 kali)

Kemudian dilanjutkan dengan membaca:

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا

“Allah Maha Besar” (3 kali)

(HR. Abu Daud 775, Ad-Darimi 1275, dan dishahihkan al-Albani)

Nah, dari keterangan tersebut, kita dapat mengetahui beberapa macam doa iftitah yang bisa diamalkan. Resapi dan pahami beberapa macam doa iftitah dan terjemahannya beserta tulisan latinnya diatas. Demikian beberapa pembahasan mengenai doa iftitah. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *